Rabu, 15 Februari 2017

Kenapa Pernikahan Adat Sasak di Lombok Dibilang Kawin Lari?

Prosesi Nyongkolan, Suku SasakProsesi Nyongkolan, Suku Sasak
Lombok - Suku Sasak di Lombok punya tradisi pernikahan unik yang disebut Merarik. Sebagian orang menganggap ini adalah kawin lari di dalam adat Sasak. Penasaran?



Membawa calon pengantin perempuan sebelum acara pernikahan, semua yang melihat pasti menganggap itu kawin lari. Tapi bagi Suku Sasak di Lombok, urusannya tidak sesederhana itu. Apalagi masyarakat Lombok adalah muslim yang taat.



Oleh karena itu, tradisi Merarik yang unik, sering disalahpahami wisatawan yang kebetulan melihatnya saat liburan ke Lombok. detikTravel pun berbincang dengan ujar Mamik Jagad (46), pemerhati budaya di Majelis Adat Sasak, bagaimana sesungguhnya tradisi unik yang sekilas seperti kawin lari ini.



"Sejarah prosesi pernikahan ini adalah semacam runutan peristiwa budaya adat perkawinan Sasak. Karena dari prosesi awal yang telah dilaksanakan adalah Merarik," ujar Mamik Jagad, Selasa (10/1/2017).
Menurut dia, Merarik itu ada beberapa cara. Di Paer atau wilayah lain ada yang Melaik, sementara ada 4 Paer di Lombok. Ada pula yang mengatakan Memulang di wilayah Lombok Utara atau Bayan. Lalu, di Lombok Timur disebut Melaik dan sekitar wilayah Mataram menyebutnya Merarik. 

Merarik adalah runutan pertama proses pernikahan adat Sasak. Misalnya mempelai laki-laki dari kampung tetangga menjemput mempelai perempuan dari kampung lainnya. Kemudian kedua tokoh adat akan bertemu untuk memusyawarahkan setelah terjadinya proses Merarik tadi. 

"Sebelumnya itu ada Memadik atau melamar atau Belako. Merarik adalah cara kedua ketika terjadi proses Bait atau Merarik (menjemput jodoh) inilah yang diistilahkan orang-orang maling itu (kawin lari)," jelas Mamik. 

Permainan Gendang Beleq mengiringi pengantin wanitaPermainan Gendang Beleq mengiringi pengantin wanita
Asal kata Merarik dari perilaku kesengajaan berpaling atau memalingkan muka, menutup mata. Contohnya, perempuan mau Merarik dengan pemuda kampung sebelah dan telah disebutkan namanya kepada ibunya. 

Lalu disarankan oleh ibunya agar tidak melamar dikarenakan saudara jauh mau menikahi juga, ada pula tetangga. Agar tidak terjadi perpecahan antar keluarga atau tetangga, maka orang tua bilang 'palingin keentan'.

"Si ibu berpura-pura menutup mata atau berpaling 'palingin keentan', lalu membiarkan pergi atau lari anak perempuannya dengan lelaki yang datang Merarik itu. Tapi itu disepakati dan merupakan rekayasa adat untuk menjaga hubungan agar tidak retak. Kenapa keluarga nggak dikasih kok orang lain dikasih?" kata dia. 

Itulah asal usul Merarik yang sebenarnya bukan kawin lari. Kalau liburan ke Lombok dan kebetulan melihat tradisi pernikahan warga setempat, jangan lupa menonton ya. Seru!

Pertemuan dua keluarga mempelai (Masaul/detikTravel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar