Kamis, 23 Februari 2017

Kuliner Paling Ekstrem di Indonesia Timur, Berani Coba?


Indonesia timur memang mempesona. Bukan hanya alamnya, kulinernya pun juga unik dan ekstrem. Seperti yang satu ini, ulat sagu dan cacing tambelo dari Papua.

Liburan ke Papua rasanya memang kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Seperti kehidupan masyarakatnya yang masih bersentuhan dengan alam, kuliner khasnya pun ekstrim bagi yang tak biasa. Mulai dari ulat sagu sampai cacing tambelo.

Baca Juga : 

Keindahan Gunung Merbabu di Jawa Tengah



1. Ulat sagu





Ulat sagu adalah camilan warga Papua dan Maluku. Ulat ini diambil dari pohon-pohon sagu di hutan rimba. Warnanya putih dan besarnya seperti ukuran jempol orang dewasa. Tak seperti kelihatannya yang sedikit geli, ulat ini punya rasa yang enak!

Salah satu yang suka menikmatinya adalah Suku Kamoro di pedalaman Timika, Papua. Ulat sagu kadang disajikan dalam perjamauan ketika mereka menerima tamu. 

Wanita dewasa Suku Kamoro menyajikan kuliner ini. Di satu nampan besar, ada binatang yang berwarna putih dengan gerakan khas ala ulat.

Besarnya seukuran jempol orang dewasa. Di ujung badannya, ada warna merah sebagai kepala. Itulah ulat sagu. Konon, ulat ini memiliki protein yang tinggi lho!

Ini adalah makanan sehari-hari di sana. Ulat ini diambil dari pohon sagu. Uniknya, ada dua cara untuk memakan ulat sagu ini, yaitu dimakan mentah-mentah dan juga dimakan setelah dimasak. Rasanya pun berbeda.

Akan tetapi, ada satu hal penting sebelum memakan ulat sagu. Kepalanya harus dibuang sebab keras.

Saat dimakan mentah-mentah, ulat ini masih bergerak-gerak di tangan. Ada cairan yang keluar dari badannya. Setelah membuang kepalanya, ulat ini masih bergerak. Hmm, rasa penasaran untuk melahapnya malah semakin menggebu-gebu.

Nyamm! Ulat sagu mentah ini pun masuk ke dalam mulut. Saat dikunyah, rasanya kenyal, asam, dan tawar. Akan tetapi, rasa asam lebih mendominasi di dalam mulut ini. Cairan di dalam ulatnya pun makin berasa.

Memang, satu gigitan saja tak cukup untuk menghancurkan ulat ini di dalam mulut. Kunyahnya harus berkali-kali!

Puas mencicipi ulat sagu hidup-hidup, kini saatnya mencoba ulat sagu yang dimasak. Ulat sagu itu dibungkus dengan lipatan pohon pisang bersama sagu sebagai tambahannya.

Setelah sekitar setengah jam dimasak, ulat sagu dan sagunya pun matang. Dari aromanya, tercium bau terbakar yang harum. Saat dibuka, ada sagu dan ulat sagu yang terpanggang.

Nyamm, ulat sagu yang dimasak memiliki rasa lebih nikmat dan gurih. Lebih kriuk dan tidak terasa asam. Kulitnya yang terpanggang justru membuta siapa pun yang mencoba jadi ketagihan. Ulat akan terasa lebih nikmat saat dimakan bersama sagunya, inilah cemilan khas dari Papua.

Sementara di Maluku, ulat sagu dimasak dengan rasa yang lebih nikmat. Mereka menambah bumbu dan rempah-rempah lain seperti rica-rica. Sehingga ulat sagu di Maluku lebih kaya rasa daripada di Papua

2. Cacing Tambelo


Selain ulat sagu, masih ada lagi ini nih kuliner khas Papua yang tak kalah ekstrem, Cacing Tambelo. Bentuknya seperti cacing tapi kulitnya putih, punya taring, lembek dan berlendir. Konon, banyak khasiatnya untuk tubuh lho!

Cacing tambelo memiliki nama latin Bactronophorus thoracites. Cacing ini termasuk ke dalam jenis moluska. Cacing ini tidak berada di dalam tanah, melainkan hidup di batang pohon yang sudah busuk.

Tambelo bisa bertumbuh panjang sampai 30 cm. Namun ukuran badannya ini akan tergantung dari banyaknya populasi di satu tempat. Semakin banyak tambelo yang hidup maka ukuran tubuhnya akan semakin pendek.

Untuk menemukan cacing tambelo, kamu bisa terlebih dulu bertemu Suku Kamoro di kawasan Timika, Kabupaten Mimika. Atau, suku-suku lainnya seperti Suku Agats yang menempati daerah pesisir di sepanjang kabupatennya. Bagi yang belum tahu, Timika ada di bagian agak selatan dari Pulau Papua.

Cacing tambelo sudah menjadi camilan dari suku-suku tersebut. Mereka suka menyantapnya ketika sedang berburu di dalam hutan. Serta, tak sungkan untuk menghidangkannya kepada turis yang datang. Asyik!

Mereka akan membawa batang-batang pohon yang sudah busuk dan lapuk terlebih dulu. Bukan sekedar busuk, Tambelo hidup di dalam kayu yang busuk oleh air laut. Krak..! Ketika terbelah, cacing tambelo yang berwarna putih terlihat menyeruak dari lubang-lubang di dalam kayu.

Melihatnya saja, mungkin sudah bikin kamu mengerenyitkan dahi. Bisa jadi, merasa jijik juga apalagi keluar dari batang pohon yang sudah busuk dengan bau tak sedap. Sekilas, cacingnya justru mirip tentakel cumi-cumi

Tenang dulu, atur nafas pelan-pelan. Kumpulkan nyali dan keberanian untuk mencicipi makanan khas Papua yang disebut sebagai kuliner ekstremnya. Pertama, cacing dibersihkan dahulu ke dalam air.

Setelah itu, ambillah bagian kepalanya yang memiliki taring tapi bentuknya kecil. Copot bagian kepalanya dan belahlah bagian tubuhnya. Jangan kaget, seketika itu akan keluar cairan cokelat yang sebenarnya adalah lumpur. Kalau sudah bersih, angkat cacing tambelo tinggi-tinggi.

Siap-siap, masukan cacing tambelo ke mulut kamu pelan-pelan seperti hendak menyeruputnya. Setelah itu, kunyahlah pelan-pelan di dalam mulut. Tektsturnya empuk dan rasa-rasanya seperti cumi mentah. Nyam...

Bagaimana, merasa tertantang untuk mencoba? Meski terlihat menyeramkan, cacing tambelo bisa jadi buat kamu ketagihan. Tenang saja, jumlah cacing tambelo dalam satu batang pohon bisa mencapai belasan.

Bagi Suku Kamoro, cacing tambelo dipercaya dapat membuat kejantanan pria bertambah. Hal itu disebabkan, kandungan proteinnya sangat tinggi sehingga bisa digunakan sebagai afrodisiak alias makanan yang dapat menambah kejantanan bagi pria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar